Optimalkan Kebun yang Ada, Disbun Kutim Genjot Produktivitas Sawit Petani

oleh -414 views

BeritakutimRantau Pulung Peningkatan produktivitas kelapa sawit di Kutai Timur terus diarahkan pada penguatan kemampuan petani dalam mengelola kebun secara tepat. Salah satunya melalui program Sekolah Lapang (SL) yang memberikan pembelajaran langsung berdasarkan kondisi dan persoalan yang ditemui di lapangan.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur selama dua hari, 27-28 Agustus 2026, di Desa Tanjung Labu, Kecamatan Rantau Pulung. Sekolah Lapang ini melibatkan Kelompok Tani Rukun Jaya dengan menghadirkan narasumber dari Pessat yang memiliki kompetensi di bidang budidaya kelapa sawit.

Kepala Dinas Perkebunan Kutim Arief Nur Wahyuni melalui Kepala Bidang Penyuluhan Muhammad Yusufsyah menjelaskan, Sekolah Lapang dirancang sebagai metode penyuluhan yang tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga mengajak petani melihat dan mempraktikkan langsung teknik budidaya di kebun.

“Sekolah Lapang merupakan metode penyuluhan partisipatif yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Ia mengatakan, peningkatan produksi kelapa sawit tidak harus dilakukan dengan memperluas areal perkebunan. Optimalisasi kebun yang sudah ada justru menjadi salah satu langkah penting, terutama melalui penggunaan bibit berkualitas, pemeliharaan tanaman yang tepat, penerapan keselamatan kerja hingga teknik pemanenan yang sesuai.

Baca Juga :  378 Organisasi Tercatat, Kesbangpol Perkuat Pembinaan dan Sinergi

Dalam kegiatan, petani mendapatkan sejumlah materi yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Pembahasan mencakup keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pemilihan bahan tanam, teknik memanen buah yang telah matang, serta pemeliharaan dan pengelolaan kebun.

Pada aspek keselamatan kerja, petani diberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD), pemeriksaan kondisi peralatan serta penerapan prosedur kerja yang aman. Hal tersebut menjadi perhatian terutama dalam kegiatan pemupukan, penyemprotan, penunasan dan pemanenan.

Sementara dalam pemilihan bibit, petani diarahkan untuk menggunakan bahan tanam yang memiliki asal-usul dan kualitas yang jelas. Bibit yang sehat, tumbuh normal serta tidak menunjukkan gejala serangan hama dan penyakit menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum tanaman dikembangkan di kebun.

Teknik pemanenan juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Petani diajarkan mengenali tingkat kematangan buah, menjaga interval panen serta menggunakan peralatan yang sesuai. Langkah tersebut diperlukan agar produksi Tandan Buah Segar (TBS) dapat optimal sekaligus mempertahankan kualitas hasil panen.

Baca Juga :  Festival Lomplay Kembali Harumkan Nama Kutim di Level Nasional

Untuk pemeliharaan tanaman, materi yang diberikan meliputi pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman serta penunasan. Pemupukan diarahkan sesuai kebutuhan tanaman dengan mempertimbangkan kondisi lahan, jenis pupuk, dosis dan waktu aplikasi.

Petani juga didorong melakukan pemantauan kebun secara rutin untuk mengetahui keberadaan gulma maupun serangan hama dan penyakit sejak dini. Beberapa gangguan yang menjadi perhatian antara lain ulat api dan penyakit Ganoderma boninense.

Dalam kegiatan penunasan, petani diberikan pemahaman agar pemangkasan dilakukan secara proporsional. Pelepah yang masih dibutuhkan tanaman tetap dipertahankan untuk menunjang proses fotosintesis dan menjaga produktivitas tanaman.

Selain meningkatkan kemampuan teknis, Dinas Perkebunan Kutim turut menekankan pentingnya pengelolaan perkebunan yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Petani diingatkan untuk tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar.

Imbauan tersebut disampaikan seiring pentingnya pencegahan risiko kebakaran lahan dan dampak lingkungan. Petani diminta menggunakan metode pembukaan lahan yang aman dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku, termasuk Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2026.

Baca Juga :  Ratusan ASN Kutim Ikuti Maulid Nabi, Bupati Ingatkan Bahaya Kebakaran di Musim Kemarau

Muhammad Yusufsyah menambahkan, pola pembelajaran dalam Sekolah Lapang dilakukan dengan menjadikan kondisi nyata di kebun sebagai bahan pembahasan. Demplot dan lahan milik peserta digunakan untuk mengidentifikasi persoalan, mencari solusi dan mengevaluasi penerapan teknik budidaya.

“Monitoring penting untuk mendeteksi kendala lapangan sejak dini, sehingga permasalahan yang ditemukan dapat segera ditindaklanjuti dan tidak menghambat penerapan teknologi budidaya,” jelasnya.

Menurutnya, monitoring dan evaluasi menjadi bagian penting untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh petani tidak berhenti pada saat pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pengelolaan kebun sehari-hari.

Dengan pendekatan tersebut, petani diharapkan tidak sekadar mengetahui tahapan budidaya, tetapi juga memahami alasan di balik setiap tindakan yang dilakukan. Pemahaman ini dinilai penting untuk membangun kemandirian petani dalam mengambil keputusan berdasarkan kondisi kebunnya masing-masing.

Dinas Perkebunan Kutim berharap pelaksanaan Sekolah Lapang di Desa Tanjung Labu dapat memberikan manfaat nyata bagi petani, khususnya dalam meningkatkan produktivitas dan mutu TBS.(Bk)