Maggot dan Ayam Kampung Dikembangkan untuk Perkuat Kemandirian Pangan Kutim

oleh -12 views
Momen foto bersama dengan para peserta kegiatan tersebut

Beritakutim.com, SANGATTA SELATAN – Pengembangan peternakan berbasis sumber daya lokal mulai didorong sebagai salah satu upaya memperkuat kemandirian pangan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Salah satu yang diperkenalkan kepada masyarakat adalah integrasi budidaya maggot dengan peternakan ayam kampung.

Upaya tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi dan pelatihan budidaya maggot serta peternakan ayam kampung terpadu yang digelar di Jalan Santai RT 05, Dusun Gunung Karet, Kecamatan Sangatta Selatan. Kegiatan mengangkat tema “Swadaya Pangan dan Integrasi Peternakan Terpadu”.

Kegiatan ini digagas melalui kolaborasi Himpunan Mahasiswa Peternakan STIPER Kutim bersama Sinergi Generasi Produktif. Puluhan peserta mengikuti kegiatan tersebut, mulai dari mahasiswa STIPER, unsur TP PKK/PD, masyarakat, hingga kelompok peternak. Peserta tidak hanya berasal dari Sangatta Selatan. Kegiatan tersebut juga diikuti masyarakat dan kelompok peternak dari Sangatta Utara, Teluk Pandan dan Bengalon dengan jumlah peserta 70 orang.

Baca Juga :  Akses Internet di Batu Ampar Belum Merata, Camat Minta Pemerataan Infrastruktur

Mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Purno Edi, mengatakan penguatan ketahanan pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri sehingga diperlukan sinergi dengan masyarakat, perguruan tinggi maupun kelompok usaha.

“Persoalan pakan menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi karena komoditas peternakan seperti ayam, kambing, sapi hingga ikan sangat bergantung pada ketersediaan pakan yang terjangkau dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Purno, ketersediaan pakan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberlangsungan usaha peternakan. Karena itu, kemampuan peternak menghasilkan atau menyediakan sumber pakan secara mandiri perlu terus dikembangkan untuk membantu menekan biaya produksi.

Baca Juga :  Perda Penanggulangan Kebakaran Disahkan, Pemkab Fokus Tingkatkan Kualitas Pelayanan
Plt. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim Purno Edi

Dalam hal tersebut, budidaya maggot dinilai dapat menjadi salah satu alternatif yang diintegrasikan dengan kegiatan peternakan. Pemanfaatannya sebagai bagian dari sumber pakan diharapkan dapat menciptakan sistem usaha yang saling terhubung, sekaligus mengoptimalkan potensi yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Purno juga melihat keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut memiliki arti penting. Pengetahuan yang diperoleh di lingkungan perguruan tinggi dapat dibawa ke masyarakat melalui praktik dan pendampingan, termasuk dalam memperkenalkan inovasi di bidang peternakan.

“Yang utama setelah sosialisasi dan pelatihan ini adalah penerapannya,” kata Purno.

Ia menambahkan, Pemkab Kutim terus membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan pangan bersama pemerintah desa, kelompok masyarakat, perguruan tinggi dan pihak lainnya. Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga dapat mencakup pendampingan, kelembagaan, pemasaran hingga pengembangan usaha.

Baca Juga :  113 Peserta Penerimaan CPNS Kutim Ikuti Seleksi SKB

Masyarakat yang telah memiliki kelompok atau usaha peternakan juga dapat memanfaatkan berbagai program bantuan pemerintah sesuai persyaratan dan hasil verifikasi. Dalam kegiatan tersebut turut disampaikan peluang pengembangan ayam petelur dengan kapasitas sekitar 600 ekor melalui mekanisme program yang tersedia.

Purno mengingatkan, keberhasilan program peternakan tidak cukup hanya dengan adanya bantuan maupun anggaran. Keberlanjutan usaha sangat bergantung pada keseriusan masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan usaha setelah mendapatkan pengetahuan maupun dukungan program.

Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik teknis budidaya maggot dan pengelolaan peternakan ayam kampung terpadu. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas penerapan sistem peternakan terpadu sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di Kutai Timur. (ADV) (9)