Soal Hepatitis Akut, KSP: Penyelidikan Epidemiologi Dan Kewaspadaan Dini Tengah Dilakukan

oleh -21 Dilihat
soal hepatitis akut ksp penyelidikan epidemiologi dan kewaspadaan dini tengah dilakukan aa200fe

KESEHATAN – Kantor Staf Presiden memastikan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah meningkatkan kewaspadaan dan penyelidikan epidemiologi (surveilans) lintas sektoral, dalam menghadapi hepatitis akut yang diketahui penyebabnya (acute hepatitis of unknown aetiolog).

Untitled-1

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden dr. Brian Sriprahastuti mengatakan, upaya ini dilakukan agar segera ada tindakan apabila ditemukan dengan gejala dan tanda hepatitis akut, terutama pada anak dibawah usia 11 tahun.

“Investigasi penyebab hepatitis akut dilakukan pada setiap kasus, mungkin melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap,” kata Brian kepada wartawan, Jumat (6/5/2022).

Selain itu, tegas Brian, pemerintah juga telah mengeluarkan Surat Edaran ditujukan kepada fasilitas layanan kesehatan, pemerintah daerah, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), dan pemangku kepentingan, untuk memberikan dukungan dan kewaspadaan dini terhadap penemuan hepatitis akut yang diketahui penyebabnya tersebut.

Baca Juga :  Kejari Kutim Akan Panggil Paksa Saksi Yang Tidak Koorperatif, Terkai kasus Korupsi Pengadaan Solar Cell Di Kutim, Bagi Pihak Yang Melindungi akan kita Tindak

Seperti diketahui, fenomena hepatitis akut yang diketahui penyebabnya, menjadi sorotan dunia setelah WHO menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 15 April 2022. WHO menerima laporan 169 di 12 negara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri, dalam dua minggu terakhir, yakni hingga 30 April 2022, dilaporkan 3 pasien anak meninggal saat dirawat di RSUP Cipto Mangunkusumo, dengan dugaan hepatitis akut.

Brian menjelaskan, hepatitis akut merupakan peradangan pada hati terjadi secara mendadak dan cepat memburuk.

Dia menguraikan gejala umum dari hepatitis. Yakni, nyeri perut, kuning, diare, muntah-muntah, perubahan warna urine, feses berwarna pucat, demam tinggi atau riwayat demam, serta ditandai dengan peningkatan kadar enzim hati.

Baca Juga :  Bupati Kutim Terima Kunker Danlantamal XIII Tarakan

“Jika mendapati anak mengalami gejala-gejala seperti itu segera dibawa ke rumah sakit atau faskes. Karena jika terlambat penanganan akan terjadi kegagalan fungsi hati yang ditandai dengan gangguan kesadaran,” jelasnya.

Brian mengakui, sejauh ini memang belum diketahui penyebab dari hepatitis akut yang sekarang menjadi KLB tersebut.

Sebab, ujar dia, dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E yang umumnya menjadi penyebab hepatitis.

Baca Juga :  Jalin Silaturahmi, AJKT Bukber Bersama Pembina dan Mitra Kerja

Dalam kaitan dengan kabar ditemukan SARS-CoV-2 atau Adenovirus pada beberapa kasus, menurut Brian, hal itu belum bisa dibuktikan.

“Sampai sekarang belum bisa dibuktikan bahwa kedua virus tersebut menjadi penyebabnya. Pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebab baik secara biologis maupun kimiawi masih terus dilakukan,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Brian menghimbau masyarakat panik, tetap tenang, dan berhati hati, serta melakukan upaya pencegahan infeksi.

“Caranya dengan mencuci tangan, meminum air bersih yang matang, makan makanan yang bersih dan matang penuh, membuang tinja dan popok sekali pakai (diapers) pada tempatnya, menggunakan alat makan sendiri-sendiri, memakai masker, dan tetap menjaga jarak,” pungkasnya.