Beritakutim.com Sangatta – Kondisi kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak terhadap sejumlah sektor ekonomi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terutama sektor yang bergantung pada ketersediaan air.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten Kutim, Noviari Noor, mengatakan perlambatan mulai terlihat di sejumlah sektor akibat kondisi tersebut. Salah satunya sektor pertanian yang mengalami kendala karena berkurangnya ketersediaan air.
“Kalau kita lihat semua sektor agak melambat, terutama sektor pertanian. Di lapangan, tingkat kekeringan dan segala macam pasti mengurangi produksi,” ujar Noviari saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Jumat (25/9/2026).
Menurutnya, kondisi kekeringan dapat memengaruhi produktivitas pertanian karena air menjadi salah satu kebutuhan penting dalam proses produksi.
Dampak kemarau juga mulai dirasakan oleh pelaku usaha tahu dan tempe. Menurunnya ketersediaan air bersih disebut menjadi salah satu kendala yang dapat memengaruhi proses produksi.
Noviari menjelaskan, dalam kegiatan produksi tahu dan tempe, pelaku usaha membutuhkan air yang cukup. Selama ini, air yang digunakan umumnya terlebih dahulu melalui proses pengolahan atau penjernihan.
Namun, ketika kondisi sumber air mulai surut, pelaku usaha mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air tersebut.
“Karena kondisi air mulai surut, mulai kering, mereka agak susah mendapatkan air bersih,” katanya.
Ia menyebut persoalan tersebut perlu mendapat perhatian agar aktivitas produksi masyarakat tetap dapat berjalan di tengah kondisi kemarau.
Pemkab Kutim, lanjut Noviari, akan melakukan koordinasi dengan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Koperasi, untuk melihat kondisi yang dihadapi pelaku usaha sekaligus membahas langkah penanganan yang diperlukan.
“Saya akan koordinasi dengan Dinas Koperasi, penanganannya seperti apa nanti,” pungkasnya.(Adv/Bk4)







