Kutim – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur (Disdikbud) terus memperbaiki kualitas data terkait anak tidak sekolah (ATS) demi memastikan penanganan tepat sasaran. Proses verifikasi dan validasi dilakukan langsung ke lapangan karena masih ditemui ketidaksesuaian antara data pusat dan kondisi sebenarnya.
Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda, menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat terhadap istilah ATS sering kali keliru. Menurutnya, kategori ini bukan hanya anak yang putus sekolah, tetapi juga anak yang belum pernah bersekolah, belum terdaftar, atau yang melanjutkan pendidikan di luar sistem yang tercatat pemerintah.
“Istilah ATS itu beragam kategorinya. Ada yang belum pernah sekolah, ada yang pindah sekolah tapi tidak tercatat lagi, bahkan ada yang masuk pondok pesantren yang tidak tercatat di Dapodik tetapi tercatat di EMIS,” jelas Irma.
Ia menyebut kendala utama terletak pada sinkronisasi data antara Dapodik di tingkat sekolah dengan data Pusdatin Kementerian Pendidikan. Kondisi tersebut sering menimbulkan persepsi bahwa banyak anak tidak bersekolah, padahal data mereka terdaftar di sistem yang berbeda.
“Banyak ketidaksesuaian antara data Pusdatin dan kondisi nyata di lapangan. Untuk itu kami melakukan kolaborasi dengan berbagai stakeholder termasuk PKK, untuk memastikan data lebih valid dengan mendatangi alamat siswa secara langsung,” katanya.
Selain persoalan data pendidikan, akurasi data kependudukan juga menjadi tantangan. Irma menyebut bahwa banyak keluarga belum memperbarui kartu keluarga, sehingga data yang ditarik pusat tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
“Update kartu keluarga ini krusial karena menjadi salah satu dasar pengambilan data oleh Pusdatin. Jika masyarakat tidak melakukan update, data anak tidak sekolah akan tetap tinggi meski anak sudah aktif sekolah,” ucapnya.
Per 14 November 2025, tercatat sekitar 10.546 anak masuk kategori ATS. Dari jumlah itu, 5.497 telah diverifikasi dan 3.490 anak kembali bersekolah melalui jalur formal maupun kesetaraan. Sementara sisanya masih menunggu verifikasi dari desa dan Disdukcapil.
Data ATS bersifat dinamis sehingga pembaruan dilakukan setiap hari. Disdikbud berharap kerja sama seluruh pihak terus berjalan untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari pendidikan. (ADV)







