Camat Batu Ampar Akui MBG Belum Terealisasi karena Akses Desa Terpencil

oleh -565 views

Kutai Timur – Harapan masyarakat Batu Ampar untuk segera menerima manfaat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya masih harus menunggu lebih lama. Hingga saat ini, program yang digagas pemerintah itu belum juga terlaksana di Kecamatan Batu Ampar. Kenyataan ini memunculkan kekhawatiran karena jumlah anak yang membutuhkan bantuan makanan cukup tinggi.

Camat Batu Ampar, Suriansyah, mengungkapkan bahwa implementasi MBG masih sekadar rencana. Rapat koordinasi terakhir telah digelar beberapa bulan lalu, namun tindak lanjut pelaksanaan belum terlihat di lapangan.

Baca Juga :  UKW PWI Kutim Resmi Dibuka, Pemerintah Tegaskan Pentingnya Profesionalisme Pers

“MBG di Batu Ampar masih belum ada. Terakhir saya ikut rapat beberapa bulan lalu, tapi programnya belum terealisasi,”ujar Suriansyah.

Data awal menunjukkan sekitar 4.000 anak masuk kategori penerima bantuan. Namun, Suriansyah menyebut sejumlah kendala teknis menjadi penghambat utama pelaksanaan. Salah satu yang paling krusial adalah standar dapur penyedia makanan yang ditetapkan pemerintah cukup tinggi sehingga sulit diterapkan di daerah terpencil.

Baca Juga :  Festival Lomplay Kembali Harumkan Nama Kutim di Level Nasional

“Satu dapur harus mampu melayani 3.000 anak dengan jarak pengiriman maksimal 30 menit. Untuk desa-desa jauh seperti Mugirayu dan Himba Lestari, program ini sulit dijangkau,” jelasnya.

Selain kondisi geografis, jumlah murid per sekolah yang hanya ratusan membuat satu dapur tidak efisien dalam distribusi ke banyak desa.

“Karena satu sekolah hanya ratusan murid, sementara jarak antara desa-desa lain cukup jauh,” tambahnya.

Melihat situasi tersebut, Camat mengusulkan alternatif pelaksanaan agar program dapat diterapkan lebih efektif. Ia menilai keterlibatan sekolah dan pelaku usaha lokal akan membantu mengatasi hambatan distribusi.

Baca Juga :  Rakornas BKN 2025 Tekankan Reformasi ASN Berbasis Data

“Kalau diberikan ke warung atau kantin sekolah, anak-anak tetap bisa mendapat makanan bergizi, dan pelaku usaha lokal juga diberdayakan,” pungkasnya.

Pemerintah kecamatan berharap solusi tersebut bisa dipertimbangkan sehingga anak-anak Batu Ampar tidak terus menunggu program yang seharusnya menjadi hak dasar mereka. (ADV)