Beritakutim.com, SANGATTA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudungga Sangatta terus memperkuat layanan stroke dan neurointervensi melalui pelaksanaan proctorship coiling perdana dengan pendampingan dokter ahli dari sejumlah rumah sakit rujukan nasional. Keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini menjadi momentum penting bagi RSUD Kudungga untuk meningkatkan kemandirian dalam menangani kasus kelainan pembuluh darah otak sekaligus memperluas akses masyarakat Kutai Timur terhadap layanan medis berteknologi tinggi.
Direktur RSUD Kudungga Sangatta, dr. Muhammad Yusuf, mengatakan kegiatan yang difasilitasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) tersebut dilaksanakan melalui pendampingan tim ahli dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pelaksanaan proctorship juga mendapat dukungan para dokter ahli dari Rumah Sakit PON Jakarta, RSUP Dr. Kariadi Semarang, serta kalangan akademisi dan ahli dari Universitas Airlangga Surabaya yang turut memperkuat kolaborasi dalam pengembangan layanan neurointervensi.
Menurut Yusuf, keterlibatan para ahli dari empat pusat layanan (center) tersebut memberikan kesempatan bagi tim medis RSUD Kudungga untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, dan memperoleh pendampingan langsung dalam pelaksanaan tindakan. Pada saat wawancara berlangsung, tim medis telah melaksanakan tindakan terhadap pasien kedua dan merencanakan penanganan pasien ketiga pada hari yang sama.
Ia menjelaskan, Kementerian Kesehatan memberikan apresiasi terhadap kesiapan RSUD Kudungga dalam mengembangkan layanan tersebut. Rumah sakit dinilai telah memiliki dukungan sumber daya manusia yang kompeten, terutama dokter pelaksana, dr. Heru, yang mempunyai kualifikasi di bidang neurointervensi, serta fasilitas Catheterization Laboratory (Cath Lab) yang memadai untuk mendukung berbagai tindakan medis.
“Secara kompetensi dan peralatan, kami sudah siap. Pendampingan ini menjadi penguatan sekaligus memberikan keyakinan dalam pelaksanaan tindakan perdana agar pelayanan dapat berjalan optimal dan aman bagi pasien,” ujar Yusuf.
Ia menegaskan bahwa proctorship bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan bagian dari persiapan menuju pelayanan yang dapat dilakukan secara mandiri oleh tim RSUD Kudungga. Setelah melalui pendampingan dan evaluasi, rumah sakit diharapkan mampu menangani berbagai kasus yang membutuhkan layanan neurointervensi, baik melalui Cath Lab maupun tindakan bedah di kamar operasi sesuai indikasi medis.

Yusuf menambahkan, kemampuan tersebut mencakup sejumlah prosedur, seperti Digital Subtraction Angiography (DSA) untuk pemeriksaan pembuluh darah, coiling untuk menangani aneurisma otak, serta embolisasi tumor pada kasus yang memenuhi indikasi. Dengan berkembangnya layanan ini, RSUD Kudungga diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitas rujukan yang semakin lengkap bagi masyarakat Kutai Timur dan wilayah sekitarnya.
Meski demikian, ia mengungkapkan bahwa masih terdapat tantangan yang perlu segera diselesaikan, yakni persetujuan kerja sama pelayanan dengan BPJS Kesehatan. Menurutnya, kepastian pembiayaan menjadi faktor penting agar masyarakat peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat mengakses layanan neurointervensi tanpa harus menanggung biaya mandiri yang relatif tinggi. Pasalnya, meskipun pelayanan dapat diberikan kepada pasien umum maupun pasien perusahaan, biaya tindakan yang besar berpotensi menjadi kendala bagi pasien peserta JKN apabila kerja sama belum tersedia.
Yusuf berharap pelaksanaan proctorship ini dapat memperkuat proses pengajuan kerja sama tersebut. Ia menyampaikan bahwa pihak Kementerian Kesehatan telah memberikan respons positif dan berkomitmen membantu mengomunikasikan permohonan RSUD Kudungga kepada BPJS Kesehatan.
“Kami berharap kerja sama dengan BPJS Kesehatan dapat segera terealisasi, sehingga kesiapan tenaga medis dan fasilitas yang sudah tersedia benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat secara luas,” pungkasnya.






