Peringati HUT ke-26, Kutim Teguhkan Identitas sebagai Miniatur Indonesia

oleh -114 views

Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi memulai gelaran Festival Pesona Budaya sebagai salah satu rangkaian perayaan HUT ke-26 Kutim Tahun 2025. Acara pembukaan berlangsung meriah di Lapangan Helipad Bukit Pelangi, Sangatta, Jumat malam 21 November 2025.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi hadir membuka langsung festival yang tahun ini kembali menonjolkan keberagaman budaya daerah. Ia menyebut kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan publik, tetapi ruang strategis dalam menjaga identitas budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Baca Juga :  Sat Samapta Polres Kutim Giat Lakukan Patroli di Bulan Ramadan » Berita Kutim

“Festival ini harus terus digelar setiap tahun agar budaya kita tetap hidup, berkembang, dan tidak terkikis oleh perubahan zaman,” ujar Mahyunadi dalam sambutannya.

Menurutnya, Kutim adalah daerah dengan keberagaman suku yang kaya mulai dari Kutai, Dayak, Banjar, Jawa, Bugis, Batak hingga masyarakat dari Indonesia bagian timur. Keberagaman itu disebut menjadi kekuatan yang harus dijaga dengan rasa saling menghormati.

Dalam kesempatan itu, Mahyunadi juga menegaskan peran penting festival terhadap UMKM. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Kutim yang mencapai sembilan persen harus dirasakan pelaku usaha kecil agar bisa naik kelas.

Baca Juga :  Kasmidi Bulang: Tim Suratin U-13 Kutim Harumkan Nama Daerah di Tingkat Nasional

“Ini bagian dari upaya kita untuk mendorong UMKM naik kelas. Pertumbuhan ekonomi Kutim yang telah mencapai sembilan persen harus turut dirasakan para pelaku UMKM,” tegasnya.

Wabup mengajak seluruh masyarakat terus menjaga harmoni sosial sebagai kunci kemajuan pembangunan.

“Kami berharap masyarakat terus menjaga sikap ramah, saling membantu, dan bergotong royong. Itu kunci kemajuan kita bersama,” katanya.

Baca Juga :  215 Pebulutangkis Ikuti Kejuaraan Badminton Kapolres Open Kutim 2023

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliansyah, menambahkan Festival Pesona Budaya menjadi ruang berbagi dan memperkuat kebersamaan.

“Festival ini bukan sekadar tontonan, tetapi ruang belajar, ruang silaturahmi, dan wadah memperkuat kebersamaan,” ucapnya.

Beragam pertunjukan seni dan budaya dari desa pesisir hingga pedalaman dijadwalkan tampil selama tiga malam, termasuk stan UMKM yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Dengan berlangsungnya festival ini, Pemkab Kutim ingin memastikan nilai budaya terus bertumbuh sejajar dengan geliat ekonomi daerah. (ADV)