SITISEK Diluncurkan, Kutim Perkuat Perang Melawan Anak Tidak Sekolah

oleh -5 views

Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan komitmennya memastikan seluruh anak mendapatkan hak pendidikan, melalui peluncuran Rencana Aksi Daerah Strategi Anti Anak Tidak Sekolah atau SITISEK Tahun 2025. Acara berlangsung di Cafe Maloy Hotel Royal Victoria, Jumat 21 November 2025, dipimpin langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.

Data nasional menunjukkan Kutim menjadi daerah dengan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) tertinggi di Kalimantan Timur. Kondisi ini menjadi dasar Pemkab menetapkan strategi percepatan dalam penanganan ATS.

Dalam sambutannya, Bupati Ardiansyah memastikan bahwa Pemkab Kutim telah menyediakan seluruh fasilitas penunjang pendidikan sehingga tidak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk tidak menyekolahkan anaknya.

Baca Juga :  Kolaborasi Relawan dan Dispar Kutim Perkuat Pariwisata Pulau Miang

“Tidak ada alasan untuk tidak sekolah. Tidak hanya warga Kutim, tetapi juga pendatang wajib memastikan anak-anaknya mengenyam pendidikan. Pemerintah telah menyiapkan fasilitasnya,” tegasnya.

Ia menambahkan Pemkab telah menjalankan kebijakan wajib belajar 13 tahun, lengkap dengan fasilitas berupa seragam, buku dan kebutuhan dasar lainnya yang dibiayai pemerintah.

“Komitmen ini didukung penuh dengan penyediaan seragam, buku, dan kebutuhan dasar sekolah lainnya secara gratis,” tambahnya.

Baca Juga :  Dispar Kutim Berikan Pelatihan Bisnis Kreatif untuk Warga Pulau Miang

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyampaikan pemetaan data ATS menjadi langkah pertama SITISEK. Berdasarkan data Pusdatin Maret 2025, terdapat 13.411 anak tidak sekolah di Kutim yang terdiri dari anak belum pernah bersekolah, putus sekolah, dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Ia menyebut tingginya angka ATS dipengaruhi kemiskinan, jarak wilayah terpencil, pernikahan dini hingga pekerja anak di sektor tambang dan kebun.

Strategi SITISEK disusun bersama Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan melibatkan lintas sektor, mulai verifikasi data, penyediaan akses sekolah formal dan nonformal, beasiswa transportasi, hingga pelibatan perusahaan dalam mendukung akses pendidikan.

Baca Juga :  957 Guru Kutim Ikuti Sertifikasi Google demi Wujudkan Sekolah Digital

Mulyono melaporkan bahwa program ini telah menunjukkan hasil awal yang menggembirakan. Dari 13.411 ATS, sebanyak 2.872 anak berhasil kembali bersekolah, meski 4.982 data masih menunggu verifikasi.

“Dengan RAD yang komprehensif ini, semua stakeholder akan bergerak terstruktur, sistematis, dan masif. Ini menjadi momentum besar untuk memastikan tidak ada lagi anak Kutim yang tertinggal dari pendidikan,” tutupnya. (ADV)