Sangatta – Pendidikan tetap menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur di tengah dinamika fiskal daerah. Komitmen itu kembali ditegaskan saat pembukaan Musyawarah Daerah ke-4 Jaringan Sekolah Islam Terpadu Kabupaten Kutai Timur Tahun 2026 yang digelar di Aula Gedung Wanita Bukit Pelangi, Sangatta, Minggu (08/03/2026).
Kegiatan yang mengangkat tema “Berkolaborasi dan Berinovasi” tersebut dibuka langsung oleh Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman. Forum ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan Islam terpadu di Kutim.
Dalam sambutannya, Ardiansyah menyampaikan bahwa Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menempatkan Kutim sebagai salah satu daerah dengan pelayanan publik terbaik secara nasional. Di tingkat Provinsi Kalimantan Timur, Kutim masuk kategori kabupaten dengan grade A.
”Pelayanan publik kita diakui secara nasional dengan predikat A. Prestasi ini tidak boleh berhenti di atas kertas, tetapi harus dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya melalui kewajiban pemerintah dalam mandatory spending (belanja wajib) di bidang pendidikan,” ujar Ardiansyah.
Ia menambahkan, komitmen tersebut diwujudkan dengan menjaga alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBD. Meski kapasitas fiskal tahun anggaran 2026 mengalami koreksi menjadi Rp 5,7 triliun dari sebelumnya Rp 9 triliun, sektor pendidikan tetap diposisikan sebagai prioritas.
“Pelayanan publik di bidang pendidikan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga aksesibilitas. Program bantuan seragam gratis empat setel, buku, dan sepatu tetap kita pertahankan guna memastikan tidak ada warga yang terhambat sekolah karena biaya perlengkapan dasar,” ucapnya.
Ardiansyah berharap Musda kali ini tidak sebatas pergantian kepengurusan. Ia ingin lahir gagasan dan program nyata yang memperkuat pendidikan karakter generasi muda di Kutim.
“Kita berharap JSIT terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan akhlak yang mulia. Dengan jaringan sekolah yang terus berkembang, JSIT diharapkan mampu meratakan standar kualitas pendidikan Islam terpadu hingga ke wilayah-wilayah kecamatan,” pesannya.
Sementara itu, Ketua JSIT Kutim, Khoiruddin Harahap, menekankan bahwa Musda memiliki arti penting bagi kesinambungan organisasi. Tema “Berkolaborasi dan Berinovasi” dipilih sebagai jawaban atas tantangan pendidikan yang semakin kompleks.
”Kita tidak butuh Superman, kita butuh Super Team. Menjalankan amanah besar pendidikan memerlukan semangat Ta’awun atau tolong-menolong dalam kebaikan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Kutim atas dukungan yang selama ini diberikan terhadap pengembangan JSIT. Menurutnya, sinergi tersebut memperkuat posisi JSIT sebagai mitra pemerintah di sektor pendidikan.
“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kutim, khususnya Bapak Bupati, atas dukungan terhadap berbagai kegiatan JSIT melalui Dinas Pendidikan. Perhatian dan dukungan yang diberikan sangat membantu pengembangan JSIT di Kutim, baik dari sisi fisik maupun program,” ujarnya.
Melalui Musda ini, kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga pendidikan diharapkan semakin solid sehingga kualitas pendidikan Islam terpadu di Kutai Timur terus berkembang dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.







