Program Sikomandan Digenjot, Kutim Targetkan 100 Pedet hingga Akhir 2026

oleh -11 views

SANGATTA – Pemerintah Daerah Kutai Timur terus mengarahkan kebijakan peternakan pada penguatan populasi ternak lokal sebagai fondasi kemandirian pangan dan ekonomi daerah. Salah satu instrumen utama yang dioptimalkan adalah Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan), dengan fokus pada peningkatan kelahiran pedet melalui teknologi reproduksi.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk menambah jumlah ternak, tetapi juga menjadi bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Baca Juga :  Perkuat Sinergi Pemerintah dan Media Siber, Bupati Mudyat Noor Resmi Jadi Pembina JMSI PPU

Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum melalui Plt Kepala Bidang Peternakan, Cut Meutia, menjelaskan bahwa strategi utama pelaksanaan program difokuskan pada pemaksimalan Inseminasi Buatan (IB) terhadap indukan yang tersedia di daerah. Skema ini dinilai lebih efektif dibandingkan mendatangkan bibit ternak baru dari luar pulau.

“Target kami tahun ini adalah, melihat hasil nyata dari indukan yang didistribusikan di Rantau Pulung. Kami menargetkan sebanyak 100 ekor anakan hingga akhir tahun 2026,” harapnya.

Baca Juga :  Wabup Kasmidi Tutup Kejuaraan Menembak Metal Silhouette Sangkulirang Open 2024

Menurut Cut Meutia, keberhasilan program ini akan berdampak langsung pada kemandirian pasokan daging daerah. Produksi ternak dari dalam wilayah diyakini mampu memutus rantai ketergantungan distribusi dari daerah lain yang selama ini menjadi sumber utama suplai.

Selain itu, peningkatan populasi lokal juga menjadi instrumen pengendali gejolak harga, khususnya saat momentum hari besar keagamaan. Dengan stok ternak yang tersedia di dalam daerah, beban biaya distribusi logistik lintas wilayah dapat ditekan sehingga harga pasar lebih stabil.

Baca Juga :  Wabup Kasmidi Optimis Pembangunan Infrastruktur Jalan Bisa Tercapai Sesuai Target

Dari sisi kesehatan hewan, strategi swasembada ternak juga dinilai lebih aman. Produksi bibit sendiri dianggap mampu meminimalkan risiko masuknya penyakit hewan yang kerap terbawa melalui lalu lintas ternak antarprovinsi.

“Kita ingin mengurangi impor untuk melindungi Ternak dari wabah. Swasembada adalah kunci utama agar kita tidak rentan terhadap serangan wabah yang seringkali muncul secara tiba-tiba dari luar daerah,” pungkasnya.