SANGATTA – Festival Pesona Budaya (FPB) Kutai Timur (Kutim) 2025 kembali menghadirkan bukti kuat bahwa panggung budaya mampu menjadi ruang regenerasi bagi seni tradisional daerah. Selama tiga malam perhelatan, masyarakat disajikan ragam kesenian dari pesisir hingga pedalaman, yang menampilkan kekhasan identitas Kutim.
Ketua Panitia kegiatan, Padliyansyah, menyampaikan bahwa FPB menjadi wadah yang menghubungkan berbagai komunitas seni agar tetap tumbuh dan tidak tergerus zaman. Ia menyebut penampilan yang dihadirkan berasal dari seni pesisir, pedalaman, hingga nusantara yang tinggal dan berkembang di Kutim.
Malam penutupan yang berlangsung Minggu (23/11/2025) di Alun-alun Bukit Pelangi dipenuhi antusias masyarakat. Tari Hudoq Medang Sengeatteak dan Tarsul yang dibawakan Zahud Fauzi Abror bersama Nur Alya Anugerah Putri tampil sebagai sajian unggulan yang memperkuat simbol budaya klasik Kutai Timur.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyebut FPB tahun ini langsung ditindaklanjuti dengan program pembinaan kesenian di tahun anggaran 2026.
“Kami laporkan juga bahwasanya untuk tahun 2026 ini sudah kita plotingkan untuk kegiatan pelatihan khususnya kepada para pelatih kesenian-kesenian tradisional seperti kesenian Jepen, Tingkilan, maupun juga Tarsul,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya keseimbangan: melestarikan budaya namun tetap memberi ruang hiburan yang sehat bagi masyarakat.
Pada malam penutupan, masyarakat juga dihibur oleh penampilan penyanyi nasional Fanny Soegi, serta penyerahan hadiah lomba fashion show berbahan limbah yang langsung diberikan oleh Bupati Ardiansyah Sulaiman dan Ketua TP PKK Siti Robiah.
Dengan selesainya FPB 2025, Pemkab Kutim berharap pembinaan kesenian semakin terstruktur dan memberikan dampak bagi pendidikan karakter generasi muda. (ADV)







