191 Guru Inklusi Disiapkan untuk Layani ABK di Seluruh Kutai Timur

oleh -5 views

Kutim – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus memperkuat pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dengan menyiapkan guru inklusi di setiap sekolah. Kebijakan ini menjadi strategi penting untuk memastikan hak pendidikan yang setara bagi seluruh anak, terlebih karena wilayah Kutai Timur yang luas dan jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang masih sangat terbatas.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengatakan bahwa selama ini akses pendidikan khusus masih terkendala jarak dan fasilitas. Hal inilah yang mendorong pemerintah melakukan transformasi pendidikan inklusif di sekolah reguler.

Baca Juga :  Disdikbud Kutim Siapkan 300 Guru Inklusi, Perluas Akses Anak Berkebutuhan Khusus

“Kalau kita hanya mengandalkan SLB, jelas tidak akan sanggup. Kutim luas, sementara SLB hanya satu. Bagaimana anak-anak di Wahau, Sangkulirang, atau daerah lainnya bisa terlayani?” ujar Mulyono di Sangatta.

Sebagai langkah awal, pemerintah menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Saat ini sebanyak 191 guru telah dikirim melanjutkan pendidikan S2 inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk mendukung penerapan program.

Baca Juga :  Disdikbud Kutim Sukses Tekan Data ATS Terbanyak di Kalimantan Timur

“Kami siapkan SDM-nya dulu. Ada 191 guru yang sudah kami sekolahkan S2 inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta,” jelasnya.

Ia memastikan mulai tingkat SD hingga SMP akan memiliki minimal satu guru inklusi guna memberikan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing siswa. Pendekatan ini diharapkan membuat anak berkebutuhan khusus bisa berbaur dengan lingkungan belajar yang lebih luas.

Baca Juga :  Kualitas Proyek Harus Dijaga, Bupati Kutim Siap Tindak Tegas Kontraktor Lalai

“Minimal satu guru per sekolah, agar setiap anak tetap bisa belajar sesuai kemampuannya,” tambahnya.

Selain penyiapan tenaga pendidik, Disdikbud juga mempersiapkan fasilitas ramah disabilitas serta alat bantu pembelajaran untuk mendukung proses belajar.

“Kami ingin memastikan bahwa inklusi bukan hanya slogan. Harus ada ruang, alat, dan guru yang siap,” tutupnya. (ADV)